Uwais Al-Qarni, nama pemuda mulia ini... Di Yaman tempat tinggalnya, penduduk kurang bersimpati kepadanya, bahkan terkadang dicaci akibat kemiskinannya. Banyak orang yang menuduhnya sebagai tukang membujuk dan pencuri... namun kehidupan yang seperti itu dijalaninya dengan sabar. Sebagai penggembala domba, penghasilannya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan Uwais dan ibunya.
Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais, dia memiliki seorang ibu yang dia berbakti kepadanya. Sekiranya dia bersumpah atas Nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dia memiliki tanda putih di badannya. (Jika kalian bertemu dengannya) mintalah kepadanya agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.” ( HR. Muslim)
Suatu ketika keinginan Uwais untuk menemui Rasulullah di Madinah sudah tidak terbendung lagi, bahkan setiap malam dalam qiyamnya tenggelam dalam tangis kerinduan. Meminta izin kepada ibunya adalah hal yang sangat berat ia lakukan, namun ibunya akhirnya mengizinkan... dengan berpesan selepas berjumpa segera kembali pulang. Berangkatlah ia ke Madinah, sesampainya di sana ternyata Rasulullah saw sedang tidak ada ditempat... teringat pesan sang ibu, dengan sangat terpaksa ia kembali pulang tanpa berjumpa sama sekali dengan Rasulullah saw.
Rasulullah saw sekembali dari perjalanan... bertanya tentang tamu yang datang, yang tidak bisa menunggu hingga kepulangan beliau... beliau menjelaskan bahwa pemuda itu sangat berbakti kepada ibunya... dia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Para Sahabat dan Aishah tertegun...
- Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”
- Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. danbersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”
Sungguh dengan amalan yang mungkin sebagian orang menganggap kecil, berbakti kepada ibu... ternyata mendatangkan keutamaan bahkan konon Uwais nanti di hari kiamat dapat memberi syafaat kepada dua kabilah... doanya mustajab dan dikenal malaikat.
Pada hari wafatnya, berbondong-bondong pelayat datang... bahkan diceritakan penduduk Yaman sendiri tidak ada yang berkesempatan ambil bagian dalam pengurusan jenazah Uwais... mulai memandikan, mengkafani dan menguburkan sudah ada yang siap... orang-orang yang asing bagi penduduk sekitar, barulah diketahui agaknya para malaikat ambil bagian dalam penguburan Uwais... barulah penduduk Yaman mengetahui siapa itu Uwais... tidak dikenal di bumi, sangat terkenal di langit.
